SANTRI MENYIKAPI RESESI
Oleh: Nurul laily Ni’mah, S.Pd
Belakangan ini, tak asing di telinga kita dengan istilah “Resesi”. Terlebih dengan adanya pertemuan G20 kemarin yang membahas salah satunya isu mengenai resesi. Jadi apa itu resesi? Bagi sebagian orang yang paham perekonomian makro, resesi adalah masalah yang cukup penting. Resesi bisa mempengaruhi banyak sendi-sendi kehidupan sebuah negara. Namun demikian, bagi sebagian orang awam resesi itu seperti dongeng yang digunakan oleh orang tua untuk menakut-nakuti anaknya agar mereka berhati-hati. Tapi apakah benar demikian? Apakah orang-orang awam tidak perlu mengetahui apa itu resesi?
Lalu, bagaimana santri menyikapi resesi? Apakah benar jika santri bisa santai sambil menutup mata akan kejadian tersebut? Santri memang tidak terdampak langsung dengan terjadinya resesi. Tapi bagaimanapun keberlangsungan kehidupan santri juga masih ditopang orang tua masing-masing. Tentu ini mengharuskan santri untuk sedikit mengetahui apa itu resesi. Secara sederhana santri dapat memahami resesi ekonomi sebagai keadaan perekonomian suatu negara yang sedang memburuk. Apakah itu artinya santri harus bersikap hemat, tidak banyak meminta kiriman dari orang tua? Tentu tidak semudah itu menyikapinya. Santri sudah terbiasa tirakat, sehingga tak akan sulit jika hanya diminta untuk hidup hemat dalam beberapa bulan di masa resesi. Tapi itu juga bukan cara yang tepat untuk menghadapi resesi.
Menghadapi resesi tidak bisa dilakukan hanya dengan berhemat. Jika semua orang menahan uangnya dengan tidak membelanjakannya, maka perekonomian dapat semakin melambat. Seorang santri tidak perlu menahan diri dengan berpuasa setiap hari hanya untuk menghemat uangnya. Resesi ekonomi tidak dapat dihadapi oleh perorangan secara pribadi.
Berdasarkan data dari kementerian agama terdapat 1,64 juta santri yang tersebar di pondok pesantren di seluruh Indonesia. Dengan jumlah santri yang lebih dari satu juta tersebut santri bisa bersama-sama berwirausaha menciptakan usaha kecil-kecilan. Tentu saja usaha tersebut perlu mendapat dorongan dari pihak pesantren. Usaha ini sedikit banyak akan membantu mengerek perekonomian negara. Setidaknya santri berbondong-bondong untuk turut serta meloloskan negara ini dari resesi ekonomi.
Melalui Edisi ke-14 kali ini, Majalah MQ Times akan mengulas mengenai bagaimana santri menyikapi resesi. Dari santri, oleh santri, untuk negeri.
Selamat membaca.
Ikuti Edisi selanjutnya dapat di baca di Aplikasi Google Play Book, Link dibawah ini :
