STOP BULLYING
BULLYING, CEDERA BERAT DUNIA PENDIDIKAN
Oleh: H. Fuad Taufiq, M.Pd
Bullying adalah tindakan kekerasan atau penindasan baik fisik maupun psikologis yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap individu yang dianggap lemah. Dalam dunia pendidikan, bullying adalah masalah besar yang dapat berdampak serius pada kesehatan mental, perkembangan kepribadian, dan proses belajar siswa. Tindakan ini menciptakan luka mendalam yang tidak hanya dirasakan oleh korban, tetapi juga merusak lingkungan sekolah secara keseluruhan, menciptakan suasana yang tidak aman dan penuh ketakutan.
Al-Qur’an mengajarkan untuk tidak merendahkan atau mencemooh orang lain, sebagai mana firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 11:
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, karena bisa jadi mereka yang direndahkan lebih baik dari mereka yang merendahkan…”
Ayat ini menegaskan bahwa merendahkan orang lain adalah perilaku yang tidak terpuji dan bertentangan dengan ajaran Islam. Dengan menghindari bullying, kita tidak hanya menjaga kesehatan mental setiap siswa tetapi juga membangun dunia pendidikan yang penuh dengan nilai kasih sayang, saling menghargai, dan aman bagi setiap individu.
Kasus perundungan yang terjadi di dunia pendidikan semakin hari mengalami peningkatan yang signifikan, kita bisa temukan di banyak platform media berita perundungan. Masalah bullying akan selalu menjadi diskusi yang berkelanjutan, karena memang dari waktu ke waktu substansi dari bullying tetap ada dan terjadi, meskipun faktanya mungkin banyak mengalami transformasi atau output lain dari hal tersebut.
Tingkat pembulian atau perundungannya yang terjadi di dunia pendidikan saat ini amat beragam, mulai dari perundungan verbal, sampai dengan taraf melukai fisik.
Modernisasi dan cara pandang atau penyikapan terhadap suatu perkembangan dan kemajuan nampaknya sangat bepengaruh dalam membentuk pola fikir dan gaya hidup pelajar era ini. pengaruh-pengaruh yang masuk dan menjadi trend dikalangan pelajar sudah tidak lagi memiliki filter, anak-anak dari tingkat sekolah dasar sudah bisa mengakses konten-konten yang berbau kekerasan dan kejahatan atau konten apapun yang sebenarnya belum seharusnya menjadi konsumsi mereka.
Sebagai contoh, maraknya kasus keributan yang terjadi antar perguruan pencak silat saat ini, disadari atau tidak, hal tersebut sedikit banyak bisa menjadi triger untuk ajang adu gengsi personal dan kekuatan masing-masing kubu. Akhirnya muncullah bias di kepala yang menyimpulkan bahwa tindakan tersebut keren dan mereka pun ikut melakukan dan melestarikan tanpa mengerti dan berfikir panjang akan dampak yang akan muncul selanjutnya.
Bagaimana tidak?, di akhir tahun 2023, siapa yang akan bertanggung jawab atas meninggalnya pelajar SD di Bekasi karena mendapat perundungan fisik dari temannya?. Perundungan kepada salah satu siswa SMP di kabupaten Kebumen dan santriwati di salah satu pesantren di Kabupaten Tuban?, siapa yang akan bertanggung jawab atas itu semua?.
Keinginan untuk terlihat superior dan tak terkalahkan adalah motivasi utama para pelaku bullying, tujuannya adalah agar mereka mendapat atensi dan mendapat kesenangan tersendiri atas pengakuan tersebut.
Dampak yang ditimbulkan dari tindakan perundungan itu tidak main-main, korban kebanyakan akan merasa tidak nyaman, takut, serba salah, yang mana itu akan berpotensi mengganggu kestabilan mentalnya. Lebih na’asnya lagi adalah jika perundungan tersebut sampai menimbulkan cedera fisik atau bahkan sampai menghilangkan nyawa.
Dari sinilah ilmu atau wawasan tentang parenting itu sangat diperlukan, sedari kecil orang tua harus segera memberikan penanaman pemahaman bahwa mengganggu atau melakukan tindakan yang merugikan kepada orang lain itu adalah tindakan yang tidak dibenarkan, apapun bentuknya. Supaya anak ini bisa memiliki kesadaran bahwa “oh tindakan yang seperti ini itu tidak boleh, karena membahayakan dan merugikan”.
Perlu diketahui, pemulihan dari kondisi mental yang sudah tidak stabil itu memakan waktu yang tidak sebentar, diperlukan treatment khusus dan juga terapi tertentu untuk menghilangkan ketakutan-ketakutan yang dialami oleh korban. Dan itu juga memakan biaya yang tidak sedikit. Akan semakin menambah tumpukan beban fikiran orang tua bukan?.
Dengan adanya dampak yang sangat kompleks dari adanya tindakan pembullyan yang terjadi di dunia pendidikan, maka dari itu lembaga pendidikan yang ada hendaknya melakukan upaya-upaya preventif untuk meminimalisir adanya tindakan perundungan atau pembullyan.
Dan yang lebih penting adalah ketika mengungkap sebuah kasus pembullyan, hendaknya fair dalam menyikapinya. Maksudnya adalah jangan sampai ada pembeda-bedaan, siapapun pelaku yang terbukti melakukan pelanggaran tersebut harus diberikan pemahaman, sanksi atau punishment. Jangan sampai ketika yang melakukan tindakan pembullyan tersebut adalah anak dari seorang atau tokoh yang memiliki power, lalu dengan serta merta memberikan perlakuan yang berbeda, jangan sampai seperti itu.
Dalam beberapa kasus terakhir, Previllage juga sering melatar belakangi adanya tindakan perundungan. Tentu kita tidak asing dengan kalimat “saya anaknya bapak ini”, ”saya punya saudara disini”, dan lain sebagainya.
Kalimat tersebut seakan menjadi password atau akses bebas untuk melakukan pembullyan atau perundungan. Tapi harus diakui bahwa itu benar adanya. Sangat banyak sekali kasus kasus besar seputar pembullyan atau kekerasan lainnya yang tiba-tiba bisa dicover dan hilang begitu saja dari permukaan. Dan apakah hal tersebut akan terus dilestarikan sambil menutup mata terhadap ironi yang sedang terjadi?.
Lalu bagai mana peran sekolah dalam menangani perundungan dan bullying di lingkungan pendidikan?. Disinilah tantangan bagaimana dunia pendidikan membangun sebuah lingkungan pendidikan melalui sekolah ramah anak dan lingkungan.
Sekolah ramah anak dan lingkungan adalah konsep pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek kebersihan fisik dan keberlanjutan, tetapi juga menciptakan lingkungan emosional yang sehat dan mendukung. Sekolah ini mengedepankan nilai-nilai positif seperti kepedulian, kerjasama, dan empati yang mampu membangun hubungan baik antar siswa dan guru.
Dengan menerapkan konsep sekolah ramah anak dan lingkungan, siswa diajarkan untuk menghargai lingkungan, berinteraksi secara positif, dan memahami pentingnya saling mendukung. Sikap ini secara alami dapat mengurangi potensi bullying, karena siswa tumbuh dalam lingkungan yang mendukung dan positif. Di sekolah yang ramah lingkungan, budaya toleransi dan kebersamaan menjadi pilar utama, sehingga setiap siswa merasa aman, nyaman, dan dihargai.
Ikuti Edisi selanjutnya dapat di baca di Aplikasi Google Play Book, Link dibawah ini :
