SPIRIT RELIGIUSITAS
Spirit Religiusitas Ramadhan
OLEH : Ali Ridlo Saiduddin, S.Pd.I
Pada awal tahun 2025, akan ada satu momen penting yang akan diperingati oleh umat Islam seluruh indonesia, bahkan dunia. Benar, momen tersebut adalah Ramadhan. Ramadhan akan jatuh pada akhir Februari atau awal Maret mendatang, tentu momen tersebut adalah momen yang sangat penting dan dinanti-nanti kedatangannya oleh seluruh umat, karena memang pada Ramadhan, segala akses kebaikan akan diterima dan pintu pengampunan akan dibuka seluas-luasnya.
Pada bulan Ramadhan, umat Islam diwajibkan berpuasa satu bulan penuh, baik tua atau muda, kaya atau miskin, warga kota atau warga daerah, semua terkena kewajiban untuk menjalankan perintah tersebut. Tapi sebagaimana kita tahu, puasa bukan hanya sebatas tidak makan atau tidak minum, bukan hanya sebatas tidak menggunjing tetangga yang sering memperlihatkan ke-glamourannya, lebih dari itu, puasa adalah menahan segala macam gejolak negatif, kobar amarah, ambisi hewani, parasit buta dan segala hal negatif lainnya. Tetapi ketika akan menyongsong datangnya Ramadhan, kita disuguhkan dengan kejadian-kejadian yang membuat kita mengernyitkan dahi seraya berkata “kok gini banget ya”. Bagaimana tidak, bisa kita lihat betapa maraknya berita tentang perpecahan, perkelahian, arogansi kelompok, keserakahan instansi, pengrusakan lingkungan dan masih banyak lagi lainnya.
Semua itu terjadi sepertinya karena memang kurangnya atau bahkan tidak adanya kesadaran bahwa menahan, menjaga kestabilan, menjaga ekosistem alam, tidak serakah, memunculkan kedamaian adalah juga merupakan perintah agama.
Menurut pendapat Seyyed Hossein Nasr, intelektual Islam asal Iran, mengamati bahwa masyarakat telah kehilangan keilahian dalam masa perkembangannya, ini terjadi karena hilangnya fungsi dan eksistensi manusia, terpecahnya pengetahuan yang menyebabkan tidak mampu melihat alam sebagai kesatuan tunggal yang utuh.
Suatu contoh, pembebasan lahan yang terjadi karena ulah keserakahan instansi pun sudah bukan pemandangan baru lagi bagi kita, warga diusir, adat ditentang, budaya dihilangkan, semua hanya berdasarkan motif ekonomi keuntungan saja. Belum lagi arogansi membabi buta yang sudah tidak terhitung lagi korbannya.
Allah SWT menganugerahi akal setiap manusia ketika dilahirkan, salah satu fungsinya adalah untuk tela’ah kembali apa yang akan dilakukan. Dan itulah yang membedakan manusia dengan ciptaan lainnya, yaitu dari segi tidak serta merta “ya’maluuna ma yu’maruun”. Manusia diberi kebebasan otentik untuk kembali memikirkan apapun yang akan dilakukan.
Ada pula fenomena baru yang muncul yang juga lumayan menggelitik, adanya tindakan pengkultusan berlebih kepada pihak tertentu. Pengkultusan tersebut seakan mengatakan bahwa pihak yang dikultuskan tersebut maksum, nircela, dan tanpa dosa. Kesalahan yang sudah terbilang akut dan perlu mendapat perhatian-pun seolah bukan hal yang perlu diperhatikan, semua luntur dengan sendirinya.
Kemudian beberapa orang menyebutkan kalau budaya tersebut berasal dari pesantren yang terkesan membombong pemahaman bahwa segala hal yang dilakukan oleh guru, ustadz, tokoh, adalah tindakan yang sudah pasti benar dan tidak mungkin ada kesalahan.
Padahal, dunia pesantren saat ini, faktanya, sangat jauh dari kata demikian, kebebasan bersuara dibuka seluas-luasnya, ruang diskusi ada hampir disetiap ranah, fasilitas dan sarana untuk perkembangan juga tidak ada yang terlupa. Pesantren justru mengajarkan keberanian dan kemandirian berfikir untuk setiap santrinya.
Pengajaran tentang kemandirian berfikir yang diajarkan di pesantren justru berbarengan dengan spirit religiusitas yang seharusnya, berfikir pada porsinya, dan yang paling penting dan membedakan dari kemandirian berfikir di dunia pesantren adalah bahwa segala sesuatu yang ada dan terjadi saat ini akan ada pertanggung jawabannya.
Ikuti Edisi selanjutnya dapat di baca di Aplikasi Google Play Book, Link dibawah ini :
