Vaksinasi Jasmani dan Rohani
Oleh : H.M. Syafi’i Budi S., M.E
Sudah hampir satu tahun lebih dunia ini dilanda pandemi yang tak usai – usai. Keraguan bercampur ketidak-percayaan akan pandemi covid 19. Pada kesempatan kali ini kita diberikan banyak ujian beserta pelajaran yang sangat berharga bagi kita yang berfikir. Tak hanya kesedihan yang harus kita ratapi dalam semua musibah ini, namun kita harus banyak mengambil hikmah yang ada dengan adanya musibah ini.
Kesedihan ini cukup dengan berfikir positif kepada keadaan pendemi ini. Dengan berfikir positif kepada semua usaha yang kita lakukan mulai dari 3 M ( Memakai Masker, Mencuci Tangan, dan Menjaga Jarak), vaksinasi yang difasilitasi oleh negara hingga kita berdo’a kepada Tuhan. Menjadi sikap bijak seorang mukmin yang selalu tawakkal.
Sebagaimana Imam Ghazali menyatakan badan yang bisa sehat atau sakit, begitu juga kalbu manusia bisa sehat dan kuat. Tetapi ia tidak akan selamat, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, sebagaiamana firman Allah SWT, “ Kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang sehat ( bersih) (QS. As-Syura;89). Dan kalbu yang sakit akan membawa kesengsaraan yang kekal baginya di akherat, sebagaimana firman Allah SWT,” Dalam hati mereka ada penyakit”, (QS. Al-Baqarah:10). Kami memahami bahwa kebodohan merupakan racun hati yang mematikan, kedurhakaan kepada Allah merupakan penyakit yang melemahkannya, ma’rifah kepada Allah merupakan obat penawar yang menyadarknnya, dan ketaatan kepadanya dengan cara mengendalikan nafsu merupakan obat yang menyembuhkannya. Jelas bahwa satu – satunya jalan untuk mengobati hati dengan tujuan menghilangkan penyakit dan mengembalikan kesehatannya terletak pada penggunaan obat – obatan tersebut , sebagaimana hal itu merupakan satu satunya jalan untuk mengobati badan. Sebagaimana juga obat menyebabkan kesehatan badan, karena khasiat dalam obat tersebut yang tidak dimengerti yang hanya mengikuti nasehat para dokter.
Demikian jelas secara pasti bahwa sebab kemanjuran obat melalui amalan ibadah (untuk penyakit ruhani maupun Jasmani) dengan cara – cara dan jumlah yang telah ditentukan para nabi, tidak dimengerti oleh akal. Tetapi wajib mengikuti jalan para Nabi yang memahami kekhususan – kekhususan ini melalui cahaya kenabian. Sebagaimana obat – obatan tersusun dari campuran unsur – unsur yang berbeda – beda dalam jenis dan jumlahnya; sebagian dua kali lipat dalam berat dan jumlahnya dari obat obat lainnya, begitu juga perbedaan jumlahnya tersebut bukannya tanpa makna yang mendasar berkaitan dengan jenis kasiatnya, maka juga begitu juga amalan – amalan ibadah yang merupakan obat rohani, tersusun dari tindakan yang berbeda – beda dalam jenis dan jumlahnya, sehingga sujud jumlahnya dua kali jumlah ruku’ dan sholat subuh hanya separuh daari shalat ashar. Perbedaan ini bukannya tanpa makna mendasar yang terkait dengan jenis khasiat yang semua itu hanya bisa diketahui melalui cahaya kenabian.
Dalam Al-Qur’an telah jelas dalam surat Al-Isra’ : ayat 82 dan surat Fushilat ayat 44, bahwa Al-Qur’an adalah obat. Al-Qur’an dapat menjadi obat bagi yang mengamalkan isi kandungannya dan obat bagi mereka yang berfikir. Semoga Dengan vaksin Sinovac menjadi ikhtiar pemerintah dalam menjaga kesehatan rakyat Indonesia. Aamiin.
Ikuti Edisi selanjutnya dapat di baca di Aplikasi Google Play Book, Link dibawah ini :
