VIRTUALISASI PESANTREN
MENIMBANG GAGASAN VIRTUALISASI PONDOK PESANTREN
Oleh: Ali Ridho, S.Pd.I*
Sudah dua tahun ini pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia dan memporak-porandakan tatanan ekonomi, sosial dan juga pendidikan. Tercatat sudah 132 ribu masyarakat Indonesia yang meninggal akibat ulah dari virus ini. Beberapa tindakan preventif dilakukan oleh pemerintah sebagai upaya untuk mencegah virus ini semakin menyebar dan membunuh manusia lebih banyak lagi. Dari upaya pencegahan itu, membuat beberapa sektor ekonomi menjadi tidak stabil dan sama halnya dengan sektor pendidikan yang mau tidak mau harus mencari cara, agar supaya kegiatan belajar-mengajar tetap bisa dilakukan. Mengingat betapa pentingnya pendidikan, akhirnya guru dan siswa melakukan kegiatan belajar-mengajar secara daring. Pondok pesantren, yang notabenenya merupakan tempat pendidikan tradisional yang mengharuskan anak didik untuk tinggal dan belajar bersama di bawah bimbingan seorang Kiai, juga ikut melakukan belajar-mengajar secara daring. Lalu sampai kapan cara belajar-mengajar ini akan terus berlanjut? Apakah setelah pandemi ini berakhir sisitem pendidikan ini juga akan mengalami perubahan?
Gagasan virtualisasi pondok pesantren juga mulai menjadi perbincangan. Sebagai bagian dari modernisasi pendidikan, apakah hal ini memungkinkan dan gagasan tersebut sudah benar-benar matang untuk diterapkan dalam dunia pendidikan tradisional? Modernisasi pendidikan di dunia pesantren memang diperlukan, dengan demikian akan melahirkan peradaban Islam yang modern. Tapi ada suatu hal yang mendasar, bahwa kita hanya akan melakukan perubahan jika memang sesuatu itu baik dan tidak menghilangkan sesuatu yang mendasar dalam prinsip pondok pesantren, yakni ikatan batin antara guru dan murid. Ikatan ini hanya bisa terpenuhi jika antara guru dan murid bertemu dan saling mengenal secara pribadi satu sama lain.
Kita sebagai bagian dari pondok pesantren, baiknya menyikapi ini harus dengan mempertimbangkan banyak hal. Pertama peran seorang Kiai dan pengurus. Dalam kaitannya dengan pendidikan, hal tersulit bagi seorang guru adalah mendidik santri menjadi pribadi yang sempurna dalam sikap, tindakan dan akhlak, karena hal ini perlu contoh nyata yang dilakukan seorang guru agar ditiru oleh santri. Kedua adalah kebersamaan. Timbulnya empati terhadap anak didik hanya bisa dibentuk mana kala seseorang hidup secara bersama dan menyaksikan banyak kejadian dalam hidup ini. Tentu ini memerlukan pola asuh yang perlu dicontohkan, karena timbulnya empati itu dikarenakan, seberapa baiknya seseorang dalam bersosial. Ketiga spiritualitas bagi anak didik. Banyak sekali hal-hal baik yang diajarkan di dalam pondok pesantren, antara lain melakukan ibadah sunnah, ziarah kubur, membaca maulid diba’ dan kegiatan lainnya yang merupakan suatu hal yang perlu dilakukan secara langsung oleh Kiai dan santri.
Di atas merupakan beberapa hal penting yang perlu menjadi pertimbangan kita dalam merespon gagasan virtualisasi pondok pesantren tersebut. Tentunya juga masih banyak sekali pertanyaan yang harus kita jawab untuk menimbang ulang gagasan virtualisasi ini. Penulis hanya melihat virtualisasi pendidikan ini hanya akan berlangsung sampai pendemi Covid-19 ini berakhir. Jika kondisi sudah kembali normal, maka cara belajar-mengajar akan kembali normal seperti sedia kala, yakni bertatap muka dan melihat senyum manis satu sama lain antara guru dan para murid.
*Dewan Redaksi
Ikuti Edisi selanjutnya dapat di baca di Aplikasi Google Play Book, Link dibawah ini :
