Santri Pancasilais?
Relevankah?
sebuah pengantar
Jika merujuk pada catatan sejarah pra maupun pasca kemerdekaan Indonesia, lagi-lagi peran ulama ti- dak bisa diremehkan begitu saja dalam proses masa-masa genting tersebut. Pada akhirnya, ini akan menjadi klausul wajib bagi santri terkait pandangannya terhadap Negara. Determinasi ideologi kaum santri terhadap hubbul wathan minal iman adalah impect nyata bahwa Indonesia—dengan segala keruwet- annya—adalah tanah air yang harus dipertahankan, dari bentuk segala pen- jajahan apapun. inilah yang kemudian hari Indonesia mendapatkan ruangnya sendiri dalam hati kaum santri, terle- pas dari ruwet dan silang sengkarut- nya kondisi negeri ini. Lihatlah, sesakit apapun bangsa Indonesia kaum santri tetap mencintainya dengan penuh arti.
Pondok pesantren, sebagai motor pendidikan tertua di Indonesia mem- punyai peran srategis, srategis mem- bangun jiwa-jiwa pancasialis dan nasi- onalisme. Santri, menjadi subjek pen- ting dalam pembangunan paradigma berpikir. Secara sederhana, kita meru- juk ke syair Syubbanul Watan (pemuda pancasila) karya KH. Wahab Hasbullah yang menjadi awal ekskalasi rasa cinta seorang santri terhadap negerinya, In- donesia.
yalal wathan yalal wathan yalal wat- han, hubbul wathan minal iman, wala takun minal hirman, inhadldlu ahlal wathan, Indonesia biladi, anta unwa- nul fakhama, kulluman yaítika yauman, thamihan yalqa himaman
dan membesarkanmu. Melalui doktrin inilah santri kemudian menemukan muara percintaan kepada negerinya Indonesia. Dan pastinya juga terhadap Pancasila.
Atinya, ”Wahai Tanah Air, Wahai Ta- nah Air, Wahai Tanah Air, cinta Tanah Air termasuk tanda iman, jangan sam- pai engkau menjadi penghalang, bang- kitlah penduduk Tanah Air, Indonesia adalah negaraku, engkau adalah sim- bol kemuliaan, setiap orang yang akan menjajahmu, pasti binasa seketika.
Pancasila adalah dasar Negara, yang memobilisasi nilai-nilai keindonesia- an secara utuh. Santri Pancasilais ada- lah wujud nyata dari nilai-nilai yang diusung itu. Sekalipun dalam reduk- sinya, tagline ‘santri pancasilais’ men- jadi wagu untuk diucapkan. Apa daya, mengkampanyekan ‘santri pancasilais’ memang harus dan wajib di tengah gempuran paham-paham radikal yang akhir ini mulai muncul kembali, dengan segala atributnya.
Tentu, setiap orang mempunyai re- presentasinya sendiri terhadap syair ini. KH. Wahab Hasbullah memantik ke- sadaran paling dalam dengan kalimat pertama “ wahai tanah air, wahai ta- nah air, wahai tanah air “. Tiga kali KH. Wahab Hasbullah memberi penekanan pada itu. Ini semacam legitimasi moral dan supremasi ideologis bahwa tanah air ini adalah ‘ibumu’, yang melahirkan
H.M. Tamim Yahya, S.Hi
SALAM REDAKSI
Pimpinan Redaksi MQ Times
Ikuti Edisi selanjutnya dapat di baca di Aplikasi Google Play Book, Link dibawah ini :
