RESESI SEKS
APA YANG MENARIK DARI RESESI SEKS?
Oleh : Andri Kurniawan
Resesi Seks. Tidak mudah mengangkat isu sensitive ini menjadi headline besar, membutuhkan effort tinggi mengingat sampai hari ini kata seks masih menjadi konotasi negative dibeberapa kalangan. Bahkan di kalangan santri sendiri. Di meja direksi, pembahasan isu ini begitu alot. Setiap kepala saling silang pendapat. Detail sekali dan sangat kritis. Tujuh jam lamanya kami berdiskusi bahkan debat mempertahankan argument satu sama lain, hingga akhirnya isu ini disepakati dengan judul besar RESESI SEKS.
Pertanyaan mendasar, mengapa isu ini harus sampai diangkat? Apa urgensinya? Lalu apa peran pesantren menyikapi isu ini? Dimana posisi yang tepat untuk berpijak bahwa resesi seks ini menjadi diskursus penting dalam keberlangsungan kehidupan manusia? Apa benar bahwa seks adalah kebutuhan primer manusia? Jika benar demikian mengapa di negara tertentu mayoritas penduduknya menghindari seks sebagai kebutuhan biologis mereka? Bukanknah watak dasar manusia (baik laki-laki maupun perempuan) adalah mencari kenikmatan, dan itu ada dalam seks? Celakanya lagi, seks pun diperjualbelikan, dikomersilkan untuk memenuhi hasrat biologis manusia. Sederet pertanyaan tentunya menghinggapi para pembaca.
Di tahun 2023 ini, Sejumlah negara di kawasan Asia mulai terjangkit ‘resesi seks’. Adanya resesi seks membuat pertumbuhan populasi jiwa jadi terhambat. Bagaimana dengan Indonesia? Istilah ‘resesi seks’ secara khusus mengacu pada turunnya mood pasangan melakukan hubungan seksual, menikah dan punya anak.
Pada akhirnya, resesi seks bisa berimbas pada penurunan populasi suatu negara, karena kondisi rendahnya angka perkawinan dan keengganan untuk berhubungan seks. Dalam laporan media Inggris The Guardian, beberapa faktor yang berkembang di kalangan perempuan pekerja adalah untuk menikmati kebebasan dengan menjadi lajang dan berkarir. Artinya, mempunyai keturunan adalah penghambatan terhadap jenjang karier, keribetan terhadap kehidupan rumah tangga maupun pengurangan stabilitas ekonomi personal.
Dunia global, terutama kawasan Asia sedang menghadapi fenomena yang serius. Jepang, Korea pun terancam dengan fenomena ini. Bagaimana hampir penduduknya mengalami minat yang rendah terhadap perkawinan dan keinginan untuk memiliki keturunan.
Lalu, bagaimana pandangan Islam terhadap pilihan hidup tanpa pernikahan dan tanpa ingin memiliki keturunan? Apakah benar dengan prediksi ledakan penduduk bumi dengan populasi manusia yang sedemikian tak terkendali bisa terjawab dengan pilihan tidak menikah?
Apapun itu, fenomena ini mulai mengancam. Di Indonesia sendiri fakta mengejutkan bahwa terdapat komunitas, dari berbagai kalangan yang mempropagandakan model hidup single parent dan lain sebagainya.
So, bagaimana dengan Anda?
Ikuti Edisi selanjutnya dapat di baca di Aplikasi Google Play Book, Link dibawah ini :
