
Muhammad Saw : Wakil Kebenaran yang Sejati
Kebenaran adalah nafas kehidupan. Tanpa kebenaran, kepercayaan akan runtuh, keadilan akan sirna, dan kehidupan sosial akan terjerumus dalam kekacauan. Di era digital saat ini, arus informasi mengalir begitu deras, namun tidak semua yang terlihat benar memang benar adanya. Hoaks, fitnah, dan manipulasi fakta dan data seolah menjadi santapan harian. Dalam situasi seperti ini, ajaran Nabi Muhammad SAW menjadi kompas moral yang menuntun umat untuk tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran yang sejati. Karena apapun itu, Muhammad Saw adalah adalah ujung tombak dari kebenaran itu sendiri, yang mendapatkan legal standing serta legitimasi dari langit. Itulah mengapa Michael Hart menempatkan Muhammad Saw sebagai manusia teratas, peringkat pertama sebagai manusia unggul, yang mempunyai pengaruh kuat diseantero bumi. Muhammad Saw bukan hanya sebagai figur historis, tapi juga wakil kebenaran itu sendiri.
Itulah mengapa sosok Muhammad Saw lebih dipandang sebagai saluran kebaikan yang mendekatkan manusia kepada Allah, ketimbang sekadar manusia biasa dengan latar keluarga. Allah adalah dzat penyangga kebenaran sejati dan Muhammad Saw adalah cipratan dari kebenaran itu sendiri. Dalam kehidupan hari ini, ditengah derasnya informasi, kita perlu mencari kompas kebenaran dari informasi yang setiap hari masuk keluar di kepala kita.
Kita dikepung oleh situasi tidak menentu, kita dibombardir oleh keadaan politik yang carut marut, kita disuguhkan keadaan kacau global maupun nasional, kita hidup ditengah ketidakpastian nasib diri sehingga mudah rapuh dan putus asa. Sebagai pribadi yang meneladani Rasulullah, tentu keadaan ini seperti ini harusnya membuat kita lebih tangguh dan kuat dalam menjalani kehidupan.
Tentu kita lupa dengan peristiwa Pemboikotan Bani Hasyim, yang terjadi sekitar tahun ke-7 kenabian oleh kaum kafir quraisy yang membuat Rasulullah Saw dan umatnya tertekan secara politik, psikologis, ekonomi, kelaparan, terputusnya akses sosial maupun keluarga, dihina dan lain sebagainya. Apakah Rasulullah putus asa dengan semua itu? Rasulullah tetap bersabar dan tawakkal sehingga Allah menghadiahi beliau dengan Isra’ Mi’raj, dimana Rasulullah mendapatkan akses untuk melintasi semesta beserta isinya. Karena manusia yang hati dan pikirannya dipenuhi kebenaran sejati, ia tidak akan luluh lantah dengan kondisi apapun.
So, sebagai insan Qur ani yang memegang teguh prinsip, ajaran serta nilai-nilai al Qur an seyogyanya kita harus tangguh dalam memegang tali kebenaran, yang pada akhirnya kita akan merasakan betapa kehidupan hanyalah permainan semata.
