Majalah Madrasatul Qur an Times, 1 Jul 2025 – 120 halaman
Percaya Diri Menjadi Santri
Oleh: Ubaidillah Ahmad Mustaghist, S.H
Sebagian dari kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah financial freedom. Istilah tersebut sering muncul atau diucapkan sebagai goals yang harus dicapai oleh generasi muda masa kini, banyak generasi muda yang kerja tak kenal waktu dari pagi sampai pagi lagi, istilah kata baju basah kering dibadan sudah benar-benar menyatu pada diri mereka, semua karena apa?. Betul, karena ingin menuju titik—yang katanya—financial freedom tersebut.
Usaha-usaha yang dilakukan tersebut tidak jarang melampaui batas kemampuan mereka, dihalalkannya segala cara, diterjangnya semua halangan rintangan, dan lelah letih sudah bukan lagi perkara yang harus dipersoalkan.
Namun nampaknya ada sedikit hal yang luput dan tidak diperhatikan, idiom financial freedom tersebut seolah-olah hanya berhak dimiliki oleh mereka yang sekolah formal sampai jenjang tertentu, kemudian setelah lulus mereka kerja, dan kemudian mengejar karir yang diinginkannya. Apakah kesempatan yang sama akan didapatkan santri di pondok pesantren?.
Sebagian dari mereka kurang percaya bahwa pesantren bisa menjamin kelayakan hidup santrinya, mindset yang berkembang diluaran sana adalah “santri ya bisanya cuma mengaji dan mimpin tahlil saja”. Mendengar hal tersebut, rasanya sedikit gelisah hati ini, yang menjadi pertanyaan adalah apakah mereka tidak tau siapa siapa saja santri yang juga memiliki pengaruh penting untuk sekitarnya bahkan sampai lingkup negara atau nasional?.
Kembali kita harus mengingat salah satu program dari kementerian agama pada tahun 2023 silam. Dikutip dari website Kemenag, program kemandirian pesantren adalah program prioritas yang digaungkan oleh menteri agama Yaqut Cholil Qoumas, yang mana program ini bertujuan untuk mewujudkan pesantren yang mandiri secara ekonomi dalam menjalankan fungsi utamanya sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Ali Ramdhani, selaku Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama juga mengatakan bahwa pesantren kerap kali menjadi institusi yang terseret-seret oleh kepentingan yang tidak ada signifikansinya dengan fungsi pesantren, yang mana hal tersebut sangat mungkin disebabkan karena pesantren tidak memiliki kekuatan mandiri dalam ruang ekonomi.
Kita ambil contoh sekarang, salah satu ponpes di Kalimantan Selatan, yaitu pondok pesantren Ushuluddin yang mengembangkan usaha pengolahan daging sapi hingga bisa mencapai omset 600 juta perbulannya.
Santri-santri pondok pesantren sekarang sudah melek dengan teknologi, banyak dari mereka yang ketika masih di pondok bergelut dengan seputar teknologi sebagai tim media pesantren atau apapun itu dan ketika sudah pulang mereka akan mengembangkan hal tersebut sebagai profesinya. Tidak hanya seputar teknologi saja, dalam hal lain pun seperti itu, ada yang memfasilitasi pertanian, ada yang memberikan pengetahuan seputar peternakan, yang mana nantinya hal tersebut akan sangat berguna untuk kehidupan
